KEMBALI KE

Thursday, March 22, 2007

Langit.....

Di satu langit kita hidup

bernafas, terjaga, dan berketurunan

ritual-ritual alam yang telah tergariskan

lihatlah, sebagian kita senang Merampas! Menindas! Menguras!

... menyakiti ...

Di satu langit kita bernaung

terlelap dan bermimpi menggenggam dunia

Terlintaskah ketika yang lain diperkosa, kelaparan, dihilangkan...

dan mati membusuk tanpa pusara!

... menyakitkan ...

Di satu langit kita berjalan

kadang berlari, terjatuh dan bangkit lagi

merasakan sejuk embun dan terik matahari yang sama

di kala fajar hingga senja menjelma

mengapa kita masih saja Merebut! Mencuri! Menipu!

... menyakiti ...

ke satu langit kita menghamba

mengiba-memohon, kadang memuja-memuji, dan lebih sering memaki

tetap saja hati ini penuh prasangka, dendam, iri dan dengki

jangan salahkan setan bernyanyi

ketika kita dengan lahap memakan bangkai saudara sendiri

... menyakitkan ...

Di satu langit kita mencintai

merindukan sua, merayu, meraba, dan tak mengapa bertengkar

tetap saja terucap maksud membandingkan, dan tak berterus terang

tiada tak mengapa mendua

... menyakiti ...

Di satu langit kita membaca dan menuliskan prosa kehidupan

belajar meluaskan hati pada langit dan selaksa bintang

belajar menjernihkan nurani pada awan yang mengalah dimalam purnama

belajar berharmoni pada matahari dan bulan

tiada sawar, hanya penawar bagi jiwa

... bagi semesta ...

kapan kita berpikir, merenung dan memperbaiki wahai saudaraku

sebelum menjadi jiwa yang lelah...

dan terperangkap dalam tubuh yang usang

dilindas waktu yang tetap melaju

bertindaklah wahai saudaraku

karena pada akhirnya ke satu langit kita menuju

Kapalo Koto, 9 Maret 2007

Heru Riyadi

No comments:

KEMBALI KE