Di satu langit kita hidup
bernafas, terjaga, dan berketurunan
ritual-ritual alam yang telah tergariskan
lihatlah, sebagian kita senang Merampas! Menindas! Menguras!
... menyakiti ...
Di satu langit kita bernaung
terlelap dan bermimpi menggenggam dunia
Terlintaskah ketika yang lain diperkosa, kelaparan, dihilangkan...
dan mati membusuk tanpa pusara!
... menyakitkan ...
Di satu langit kita berjalan
kadang berlari, terjatuh dan bangkit lagi
merasakan sejuk embun dan terik matahari yang sama
di kala fajar hingga senja menjelma
mengapa kita masih saja Merebut! Mencuri! Menipu!
... menyakiti ...
ke satu langit kita menghamba
mengiba-memohon, kadang memuja-memuji, dan lebih sering memaki
tetap saja hati ini penuh prasangka, dendam, iri dan dengki
jangan salahkan setan bernyanyi
ketika kita dengan lahap memakan bangkai saudara sendiri
... menyakitkan ...
Di satu langit kita mencintai
merindukan sua, merayu, meraba, dan tak mengapa bertengkar
tetap saja terucap maksud membandingkan, dan tak berterus terang
tiada tak mengapa mendua
... menyakiti ...
Di satu langit kita membaca dan menuliskan prosa kehidupan
belajar meluaskan hati pada langit dan selaksa bintang
belajar menjernihkan nurani pada awan yang mengalah dimalam purnama
belajar berharmoni pada matahari dan bulan
tiada sawar, hanya penawar bagi jiwa
... bagi semesta ...
kapan kita berpikir, merenung dan memperbaiki wahai saudaraku
sebelum menjadi jiwa yang lelah...
dan terperangkap dalam tubuh yang usang
dilindas waktu yang tetap melaju
bertindaklah wahai saudaraku
karena pada akhirnya ke satu langit kita menuju
Kapalo Koto, 9 Maret 2007
Heru Riyadi

No comments:
Post a Comment