KEMBALI KE

Thursday, March 22, 2007

Cerpen : Auh Ah By : @rivine

Di suatu negeri yang sedang mengalami kemajuan semenjak bercokol dengan senjata melawan perusak negara, hidup masyarakat yang beraneka ragam terpuruk maka memulai membangkitkan kemajuan. Ini sudah hampir berapa dekade semenjak perjuangan itu tetapi yang terlihat tidak ada kemajuan melainkan suatu kehidupan yang sudah modernisasi katanya. Mobil mewah, pendidikan tinggi, rumah mentereng dan sebagian warga yang ada mempunyai segala fasilitas lengkap di halaman rumah. Di satu sisi kehidupan itu terlihat mencolok dihadapan mata telanjang, tetapi disisi lain itu hanya sebagai hiasan untuk menutupi akan kemewahan yang mereka dapat. Jika setiap hari melintas di jalanan maka akan terlihat semuanya seakan menunjukkan kalau suatu negeri ini adala negara yang maju, makmur dan mempunyai peradaban tinggi, tetapi itu semua masih berupa tanda tanya.

Kalau dilihat secara kasat mata, banyak program yang ada dilaksanakan untuk mensejahterakan masyarakat sesuai dengan yang mereka ucapkan, tapi yang ada hanya masih sebatas mimpi. Katanya negeri yang kaya akan alamnya yang memang cukup geografis untuk kesejahteraan, tapi tidak maksimal penghasilannya. Ada sebait pantun yang terucap ketika seorang anak mengamen dijalanan :

Buah semangka berwarna merah

Dimakan sama adik berbaju jingga

Biar aku tidak tamat sekolah

Tapi aku tetap ceria

Sepintas anak yang tubuh kecil dan juga berumur belasan tahun, tidak seharusnya dijalanan untuk mengadu nasib guna menyambung hidup, melainkan harus memakan bangku sekolah seperti yang di atas. Hanya saja, yang melintas berkenderaan mewah tidak pernah mau memperhatikan siapa anak itu dan kenapa harus dijalanan. Kalau mereka sadar dan juga paham apa arti yang sebenarnya hidup berbangsa pasti akan memikirkan pengamen jalanan.

Sejenak terlihat, rumah yang mewah dengan mobil berjejer lima dihalaman, menenteng tas dan sepatu bagus, tapi hanya perutnya saja yang dipikirkan. Dikantor sesuatu yang bukan haknya bisa diraihnya, hanya dengan memamerkan siapa yang akan berkuasa. Dengan sekali berkongkalingkong, bisa menjual generasi masa depan tanpa ada yang dipikirkan untuk ke depan. Ketika terlilit dana mulai mengais keluar guna menutupi kekuarangannya. Seandainya saja, itu yang berdasi dan mentereng mau dan juga saling berjabat untuk memahami dan memikirkan kaum para papah seperti kami ini maka akan indah kami rasakan kehidupan yang fana.

No comments:

KEMBALI KE